Namanya Furqan. Dia adalah
satu-satunya murid laki-laki di sekolah ini yang tidak terpesona padaku. Oke,
karena tidak ada yang tidak terpesona padaku, maka kukatakan dia adalah
satu-satunya murid laki-laki di sekolah ini yang BELUM terpesona padaku.
Sebelumnya perkenalkan orang-orang
memanggilku Honey. Itulah sebutanku di sekolah ini. Mungkin karena kecantikanku
dan kemanisan wajahku ini. Bisa dibilang aku adalah murid tercantik dan
terpopuler di antara semua murid cewek di sekolah ini bahkan senior kelas XII
sekalipun. Dengan kepopuleran itu selama bersekolah hampir dua tahun di SMA
ini, tidak ada murid laki-laki di sekolah ini yang tidak mengakui kecantikanku.
Mereka memuji kecantikanku, dan tentu saja terpesona padaku.
Setiap hari lokerku dipenuhi coklat
dan surat warna pink dari mereka yang menyukai ku dan berninat menjadikanku
pacarnya. Tidak hanya coklat dan surat cinta, mereka yang nekat bahkan
mengadakan semacam cara gila untuk menyatakan perasaannya padaku mulai dari
aksi romantis ‘berlutut di depanku di depan umum’ sampai pakai acara mau bunuh
diri. Dan kebanyakan dari mereka harus patah hati.
Asal kalian tahu saja, aku juga
menetapkan beberapa standar dan hanya sedikit orang yang bisa memenuhi standar
itu. Pernah sekali aku berpacaran dengan Ketua Osis yang merupakan cowok
terpopuler di sekolah. Pernah juga aku berpacaran dengan Ketua Tim Basket yang
juga merupakan cowok terkeren di sekolah. Tidak ketinggalan cowok tercupu di
sekolah ini pun tidak terlewatkan.
Aku bukan gadis pemakai jilbab
walaupun memang kuakui aku Islam. Menurutku, banyak cewek yang memakai jilbab
tapi tetap saja kelakuannya bahkan jauh lebih rendah dari pada yang tidak
berjilbab. Aku hanya menginginkan suatu saat ketika aku berjilbab, aku bisa
memakai jilbab itu dan mengaplikasikannya di dalam penampilanku dan
kepribadianku. Benar-benar sesuatu yang nyaris mustahil.
Betapa pun aku ingin memulainya,
entah mengapa ada saja halangannya. Seperti, ketika aku menyampaikan
cita-citaku itu pada Rina, cewek yang KUKIRA sahabatku. Apa yang terjadi ketika
aku cerita tentang ‘cita-cita’ku itu? Diluar dugaan dia malah menertawaiku dan
malah mengatakan ‘lo kesurupan apa, Hone (baca: han)’
Walaupun aku bukan pemakai jilbab,
tapi kurasa kelakuanku juga tidak seperti yang dipikirkan orang-orang. Aku
gadis yang baik, aku tidak pernah mengambil pacar orang, aku juga tidak pernah
di luar rumah di atas pukul 7 malam. Kalaupun aku berkencan dengan
pacar-pacarku selama ini, itu semua hanya dilakukan di siang menjelang sore hari.
Dan yang terpenting, aku juga tidak pernah berpacaran dengan cowok-cowok yang
pergaulannya ‘rusak’.
Oke, sekian dariku. Sekarang Furqan.
Namanya saja Furqan. Nama itu entah
mengapa ketika kusebut, aku selalu merasakan perasaan yang aneh. Furqan. Furqan.
Furqan. Dia cowok yang kalau bisa dibilang benar-benar-benar-benar shaleh. Dia
kelas XI IPS D. Kerjanya, kalau bukan di mushallah sekolah pasti ada di
perpustakaan bagian sejarah Islam dan hukum-hukum Islam. Anak yang benar-benar
religius. Sangat jarang atau bahkan sudah tidak ada di seantereo Bandung ini.
Pernah kudapati saat aku dalam
perjalanan menuju sekolah, ia memberhentikan sepedanya dan membantu seorang
nenek renta menyeberang jalan. Pernah juga dia kudapati membagikan nasi bungkus
pada gelandangan yang terletak di persimpangan sana, lagi-lagi dengan sepeda
tuanya.
Dia anak yang baik. Bukan sekedar
baik. Tapi, ah! Susah dijelaskan. Furqan. Tidak pernah sekalipun aku melihatnya
bersentuhan tangan bahkan duduk dengan cewek mana pun dalam radius 10 meter.
Aku juga tidak pernah melihatnya tanpa kopiah atau pun dengan Al-quran mini di
tangannya.
Dan sosok Furqan yang sangat
religius itulah yang membuatku sangat terpesona sekaligus sangat penasaran
padanya.
Tanpa kusadari setiap aku lewat di
depan kelasnya, kepalaku selalu menengok ke dalam kelasnya mencari sosok Furqan
dengan alasan ingin melihat-lihat stok cowok XI IPS D. Tanpa kusadari juga, aku
malah lebih betah di mushollah setiap pulang sekolah memerhatikan sosok Furqan
yang sedang membaca Al-Qurannya.
Semakin lama kuperhatikan, semakin
aku terjebak oleh pesona religius Furqan. Mungkin dia adalah orang yang bisa
merubahku menjadi diriku yang kuinginkan. Aku ingin menjadi wanita mushlimah
seutuhnya.
“Furqan ada?” aku menengok ke dalam
kelas XI IPS D saat jam istirahat. Sudah kupastikan, Furqan pasti sedang
membaca Al-qurannya di pojok ruangan dekat jendela. Seketika seisi kelas
memandangiku dan Furqan secara bergantian.
The School’s Princess one bertemu
dengan The School’s Religious one. Semua merasa aneh dengan itu. Dan sebenarnya
kalau boleh jujur, aku juga merasa aneh.
Aku duduk kira-kira 7 meter di depan
Furqan. Kami berdua hanya duduk tanpa tahu harus memulai dari mana percakapan
ini.
“maaf mengganggumu dan menyita
waktumu” aku bicara tanpa melihatnya dan malah memerhatikan bunga-bunga yang
ada di sekelilingku.
“kalau kau bicara seperti itu,
berarti ada sesuatu yang penting” jawabnya dengan nada datar. Entah mengapa
saat ini aku baru menyadari kekerenan, pesona, dan ketampanan Furqan.
“hmm…” aku berdehem “aku ingin
menjadi wanita mushlimah seutuhnya. Bisa kau membantuku?”
Furqan menampakkan ekspresi heran
sesaat dan akhirnya dia tersenyum. Sudah kubilang dia itu tampan. “dengan
senang hati akan aku bantu”
Aku berdehem “aku ingin menjadi wanita
mushlimah seutuhnya. Bisa kau membantuku?”
Furqan menampakkan ekspresi heran
sesaat dan akhirnya dia tersenyum. Sudah kubilang dia itu tampan. “dengan
senang hati akan aku bantu”
Aku masih saja terbayang dengan
percakapan pertamaku dengan Furqan kemarin. Entah mengapa saat kukatakan aku
ingin menjadi wanita muslim seutuhnya, di luar dugaanku, ia malah akan
membantuku. Memang aku yakin dia akan membantuku, tapi bisa saja dengan
image-ku selama ini, dia malah akan menertawaiku.
Dia berbeda dengan yang lain. Aku
yakin itu dan memang, ia berbeda dengan yang lain. Dia anak SMA jurusan IPS
yang sangat religius. Kemarin, aku datang menemuinya di kelas untuk
mengembalikan buku ibunya, aku sadar, semua orang pasti memerhatikan kami dan
pasti berita itu akan tersebar sampai seantereo sekolah.
Tapi, setidaknya kumohon, jangan
sampai Ryan yang mengetahui itu.
Oke, sekedar info saja, sekarang
status ku sedang tidak berada dalam status jomblo. Yang parahnya lagi, pacarku
saat ini over protectif padaku. Bertemu dengan orang lain saja aku harus
melapor padanya. Kuharap Ryan tidak tahu ini, walaupun ini nyaris mustahil.
“untuk menjadi seorang muslimah yang
kau inginkan..” seperti biasa Furqan sedang berada di perpustakaan membaca
buku-buku agama lainnya. Tapi, kali ini dengan kehadiranku di sini, jadilah
kegiatan Furqan berubah. Ia bagaikan guru kepribadian bagiku.
Furqan memberitahuku semua yang ia
ketahui tentang menjadi seorang muslimah yang baik. Mulai cara berbusana sampai
cara bersikap semua ia ajarkan padaku. Termasuk hukum berpacaran dalam Islam
yang tidak pernah kuketahui dari dulu.
Sadar atau tidak, aku mulai
mengucapkan assalamualaikum dalam menjawab teleponku. Setiap aku bertemu dengan
teman-temanku, aku tersenyum dan mengucapkan salam. Aku juga tidak lagi
menggunakan pakaian yang terlalu ketat, dan aku juga tidak lagi mengumbar
senyum sana sini bahkan aku menjadi salah satu anggota remaja mushollah di
sekolahku.
Dengan perubahan ini, aku mulai
merasa tenang, damai, dan akh! Susah dijelaskan, intinya semua ini memberiku
banyak perubahan yang sangat sangat bermanfaat bagiku.
Sekarang mengenai Furqan. Sekarang
ia sudah mulai bersahabat denganku. Entah itu cuman khayalanku semata atau
memang dia sepertinya memerlakukanku berbeda dengan yang lainnya. Apakah ini
hanya perasaan ku atau bukan aku juga tidak tahu pasti.
Saat pulang sekolah, tiba-tiba saja
hujan langsung turun dengan lebatnya. Spontan aku langsung menuju halte bus
terdekat dan berteduh di sana. Siapa sangka di sana sudah berdiri Furqan yang juga
sedang menunggu hujan berhenti. Aku tahu itu Furqan dan aku mengucapkan salam
seperti biasa. Dia juga menjawabnya dengan biasa.
Mungkin Furqan risih dengan
keberadaanku dalam jarak kurang dari 5 meter darinya, Furqan sedikit ke samping
untuk memperluas jarak kami. Walaupun itu berarti sebagian tubuhnya harus
terkena hujan. Kemudian aku dan Furqan hanya sibuk dengan pikiran kami
masing-masing.
“Uswahtun Hasanah” Furqan membuatku
kaget dengan gumamannya. Sudah hampir dua tahun aku tidak pernah mendengar kata
itu. “aku sangat suka nama itu” Furqan berbalik ke arahku dan berkata“bagaimana
menurutmu Uswahtun Hasanah?”
Aku kaget luar biasa kaget,
bagaimana mungkin ia tahu nama asliku. Nama yang bahkan guru sekalipun sudah
lupakan, nama yang sudah tergantikan dengan nama pemberian teman-teman SMP ku,
nama yang bahkan hampir kulupakan. Bagaimana mungkin, Furqan, bisa mengetahui
itu?
“setelah kau melupakanku, apakah kau
bahkan melupakan nama aslimu, Uswah?” aku masih tidak berkata-kata mendengar
kalimat yang ditanyakan Furqan.
“kau lebih cocok menggunakan nama
itu, karena nama itu istimewa.” Furqan melepas kacamatanya, “apa benar kau
melupakan aku, Uswah?”
Semua terasa seperti mimpi. Aku
tidak sadar dan mungkin tidak pernah sadar dengan siapa sebenarnya Furqan itu.
Aku tidak pernah menyangka Furqan yang ini adalah Furqan yang itu. “kadangkala
masa lalumu justru datang disaat masa lalu itu sudah terlupakan” dan kata-kata
nenek dulu benar. Hhhh!
Aku hanya mendesah mendapat
kenyataan ini. Hanya mendesah berat dan tidak berbuat apa-apa karena aku memang
tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau ia Furqan yang itu, bagaimana dengan
‘perubahanku-menjadi-muslimah-yang-kuinginkan?’ apakah lagi-lagi harus berhenti
di tengah jalan?
Keesokan paginya begitu aku melewati
gerbang sekolah, mataku langsung menangkap sosok Furqan dengan sepeda tuanya.
Astaga! Aku tidak bisa berkata apa-apa. Ingin rasanya aku menghilang tapi, saat
aku baru saja ingin berbalik, ia malah melihatku.
Apa yang harus kulakukan? Dia
tersenyum padaku. He-eh? Tersenyum? Aku berbalik ke belakang memastikan siapa
sebenarnya yang sedang ia senyumi. Dan aku mendapati tidak ada orang disana.
Semuanya harus kuhadapi. Aku berjalan ke Furqan dan aku
tersenyum padanya “Assalamualaikum…” aku menyapa dan tersenyum pada Furqan
dengan hati riang, seolah percakapan kami kemarin tidak pernah terjadi. Saat
ini hanya ada satu alasan dalam hatiku, kumohon buat Furqan melupakan
percakapan kami kemarin. Ya, percakapan kami.
“Waalaikumsalam”Furqan menjawab
salamku dengan senyuman seperti biasa. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Aku
senang dan sekaligus merasa aneh. Ya, aneh. Bagaimana mungkin Furqan bisa
melupakan percakapan kami yang kemarin? Atau mungkin Furqan hanya ingin aku
tahu bahwa dirinya adalah Furqan yang kukenal dulu. Aku bingung.
Dan kebingunganku itu kubawa sampai
ke dalam kelas. Saat belajar pun aku hanya memikirkan kebingunganku dan
berusaha mengingat sosok Furqan dulu. Bahkan saat guru ter-killer mengajar pun
aku nekat tidak memerhatikan pelajaran.
Furqan telah mengalami perubahan
yang sangat besar dari Furqan yang kukenal dulu, 3 tahun lalu. Furqan saat itu
adalah sosok preman sekolah yang terkenal dengan kenakalannya. Dengan geng
bergaulnya dia sering membuat acara balapan liar di tengah malam buta. Bahkan
yang kudengar dulu, dia pernah terlibat kasus nakoba dan harus berurusan dengan
polisi.
Tapi, 3 tahun lalu aku pindah ke
Kota Bandung ini, meninggalkan Furqan dengan sederetan kenakalannya. Dan siapa
sangka, Furqan yang dulu sinonim dengan kata preman, sekarang berubah menjadi
seorang remaja 17 tahun yang sangat lekat dengan kata religius.
Tiba-tiba muncul pemikiran dalam
otakku, kalau Furqan saja yang seperti itu bisa berubah dan menjadi seperti
sekarang, mengapa aku tidak? Aku tidak pernah terlibat masalah serius, aku
tidak punya geng khusus, dan yang paling penting aku tidak pernah berurusan
dengan polisi lantaran hal negatif.
Ya, aku bisa berubah. Aku harus
berubah. Begitu bel pulang berbunyi, aku langsung berlari dengan cepat ke arah
kelas Furqan. Begitu kudapati Furqan sedang berjalan menuju mushollah, aku
langsung menghampirinya dan menarik tangannya cepat. Aku tidak sadar. SUMPAH!
Aku tidak sadar.
Furqan dengan cepat langsung menarik
tangannya. Tanganku sakit karena itu. Kulihat wajah Furqan dan sepertinya aku
sudah melakukan hal yang sangat fatal bagi Furqan.
“Kita bukan muhrim. Haram hukumnya
bagi laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim bersentuhan bahkan berpegangan
tangan.”Astaga, aku sudah salah.
“Maaf..” Aku menunduk
“Sudah jangan kau pikirkan. Kalau
kau seperti tadi, berarti ada hal yang penting.”
“Ya, aku pikir aku akan memakai
jilbab”
Furqan heran sesaat. “Memakai jilbab
tidak semudah yang kau pikirkan. Jilbab bukan sekedar kain yang menutupi
rambut. Tapi, jilbab adalah penutup aurat perempuan. Jilbab bukanlah sesuatu
yang mudah. Dengan memakai jilbab, berarti…”
“Aku mengerti. Mulai sekarang aku
akan memakai jilbab. Aku tidak akan pernah memerlihatkan auratku pada siapa pun
kecuali muhrim ku. aku ingin sepertimu. merasakan ketenangan dan kedamaian yang
sebenarnya.”
“Itu maumu, dan aku tidak dapat
menghalanginya.”
Pulang sekolah, aku langsung
menelepon Ryan dan meminta putus dengannya. Awalnya ia tidak mau. Aku berdalih
aku sedang ingin sendiri, dan siapa sangka ia percaya, dan kami pun putus.
Selanjutnya, aku bersama ibu Furqan pergi mencari jilbab yang cocok denganku
dan memenuhi aturan berjilbab.
“Bismillah hirrah manirrahim.”Aku
memakai jilbab. Inilah yang kutunggu-tunggu sejak dulu. Dan Alhamdulillah ya
Robb, kau telah memberikanku kesempatan untuk memakai jilbab.
Aku datang ke sekolah dengan jilbab
yang menutupi bahu hingga pinggangku. Semua orang menatapku heran. Mungkin
mereka bertanya mengapa aku bisa memakai jilbab seperti ini. Aku melewati
koridor seperti biasa menuju kelasku. Aku mengucapkan salam dan berjalan menuju
tempat dudukku.
“Heh! Ngapain lo mau duduk di tempat
duduk teman gua?” Gina datang dan mendorong bahuku. Aku tersenyum. Astaga!
Apakah aku benar-benar berubah bahkan teman sekelas ku pun tak ada yang
mengenaliku. Aku memegang pundak Gina.
Dia heran dan aku berkata“ini aku
Honey, teman sebangku mu”
Gina dan yang lainnya melongo.
Mereka heran. Ya, sudah seharusnya. Aku sudah siap menerima semua perkataan
mereka. Furqan dan ibunya sudah memberitahuku itu semua. Aku siap, Insya Allah.
Tidak terasa satu tahun sudah aku
mengenakan jilbab ini. Kain putih yang kugunakan untuk menutup auratku.
Benar-benar perubahan yang mencolok dari seorang Honey. Seorang yang dulunya
terkenal dengan image cantik, banyak pacar, banyak mantan, dan entahlah
apalagi. Kalau boleh jujur aku senang dengan perubahanku ini.
Aku senang bukan berarti semua ini
terjadi begitu saja tanpa perjuangan yang keras. Awalnya, mantan-mantanku
mengatakan bahwa aku salah pilih jalan, cewek-cewek centil yang dulu selalu
bergaul dengan ku juga bilang aku kesambet setan entah darimana. Dan paling
parahnya lagi, orang tuaku sendiri bahkan bilang aku sepertinya terkena
amnesia, entah terbentur dimana.
Lantas apa yang kulakukan? Bukan
Honey namanya kalau tidak melakukan perlawanan dan mematikan orang-orang yang
berkata begitu. Tapi, itu dulu. Sekarang, seperti yang diajarkan Furqan,
semuanya akan indah jika dilandaskan dengan ketulusan dan keikhlasan serta
ditopang dengan kesabaran.
Aku mengerti apa yang Furqan katakan
dan melakukan semuanya. Intinya, berkat Furqan aku bias melalui semua itu
dengan baik. Dan sekarang, aku bukan lagi Honey yang cantik, banyak pacar,
banyak mantan tapi menjadi seorang Uswahtun Hasanah yang muslimah. Merupakan
pasangan yang cocok untuk Furqan.
Sekarang, beralih ke tema lain. Aku
adalah pasangan yang cocok untuk Furqan. Siapa yang bilang itu? Entahlah tidak
ada yang tahu. Tidak jelas siapa yang bilang pertama, atau sejak kapan gossip
itu beredar. Yang pasti, itu membuatku sadar akan suatu hal. Apa itu?
Perasaan ku pada Furqan. Sebenarnya,
apa perasaanku pada Furqan? Hanya seorang teman, sahabat, sahabat dekat, atau
lebih? Aku masih bingung. Aku merasa perasaanku pada Furqan lebih dari sepasang
sahabat dekat, ya, aku pikir begitu. Sayangnya, aku tidak pernah memikirkan
perasaanku pada Furqan seperti itu. Kurasa, aku menyebut perasaan ini sebagai
sesuatu yang berada antara kagum, sahabat, dan cinta.
Itulah perasaanku pada Furqan. Masih
mengambang. Tidak jelas. Lantas apa perasaan Furqan padaku? Bagaimana perasaan
seorang Furqan pada ku? Aku masih sibuk menerka-nerka seperti apa perasaan
Furqan padaku, sampai siang ini.
Bel pulang berbunyi, aku sibuk
memasukkan semua buku-bukuku dalam tas dan hendak pulang. Siapa sangka Furqan
sudah berada di depan pintu kelasku. Apa yang dia lakukan? Tentu saja
menungguku.
“Assalaamualaikum“ sapaku pada
Furqan dengan senyuman seperti biasa
Furqan tidak menjawab salamku dan
sibuk dengan tatapannya yang menatap… ke arahku! Mendapati aku sedang ditatap
oleh Furqan aku menunduk, berusaha menyembunyikan wajah ku yang memerah
lantaran malu. Furqan menggeleng sebentar dan akhirnya dia menjawab salamku
“Waalaikum salam“
“Ada apa? “
“Tidak ada apa-apa, aku hanya
mengingatkanmu, bada ashar nanti, ada pengajian di rumahku. Ibuku menyuruhmu
untuk dating ke pengajian itu. “ Jelas Furqan siap “Kau tidak ada acara bukan?“
Aku menggeleng pelan seraya berkata
tentu saja tidak
Akhirnya kami berdua berjalan
beriringan. Furqan, sepeda tuanya, dan aku. Kami membicarakan banyak hal. Ya,
setidaknya, lebih banyak dari yang dulu. Bahkan, kudapati Furqan tertawa ,
mendengar ceritaku tentang pendapat orang tuaku mengenai jilbab ku ini.
Pemandangan yang langka melihatnya tertawa. Tanpa sadar aku menatap Furqan.
“Uswah“ panggil Furqan padaku. Nada
bicaranya agak aneh.
Aku menggeleng sebentar dan menjawab
“Ya?“
Furqan menunduk sebentar dan
memberhentikan langkahnya. “Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya.“ Aku
belum pernah menyatakan perasaanku pada perempuan mana pun. Kuperhatikan
keringat dingin mengalir dari leher dan dahi Furqan. Setegang itukah dia?
“Lalu?“
“Maaf saja, jika aku menyatakan
perasaanku padamu tidak seperti mantan-mantan mu yang lalu.“
Otakku berjalan lebih lambat dari
biasanya. Aku belum bias mencerna apa yang dikatakan Furqan. Aku harap kau
bersedia menerima perasaanku padamu. Hening. Aku bahkan bias mendengar
dentingan detik jam tangan Furqan saking heningnya. Padahal, ini jam sekolah.
Motor, mobil saling membunyikan klakson bersahut-sahutan.
“Tidak bisa.“ Kata-kata itu langsung
keluar dari mulutku begitu saja. Refleks. Aku tidak bisa menerima perasaanmu
itu Furqan. Mendengar itu Furqan terkejut begitu pula aku.
“Maksudmu?“
“Aku tidak bisa menerima perasaanmu
itu. Aku belum siap. Aku masih perlu banyak belajar dengan kemuslimahanku ini.
Sekarang ini, aku ingin focus Furqan. Aku ingin focus pada cita-citaku dan
cinta-Nya.“ Jantungku berdegup kencang mengatakan itu. Alhamdulillah, ini
cobaan lainnya.
Furqan tersenyum masam. “Kau
benar-benar berubah, Uswahtun Hasanah.“
“Ya, itulah aku berkat kau.“ Jawabku
dengan senyuman juga.
“Lalu? Bagaimana perasaanmu padaku?“
Tanya Furqan lagi.
Aku menghentikan langkahku, begitu
juga dengan Furqan. Aku bingung harus berkata apa, Bismillahhirrahmanirrahim
“aku juga punya perasaan yang sama padamu“ dan aku berlari kecil meninggalkan
Furqan yang masih mematung dengan jawaban ku tadi.
REUNI SMA Negeri 3 Bandung tahun
angkatan 2011/2012. Aku membaca pelan undangan reuni SMA ku ini. Ini akan dilakukan
3 hari lagi. Hhhh! Aku menutup mata pelan. Berusaha menenangkan pikiranku
setelah hampir 6 jam disibukkan mengajar anak TK ini.
Disaat itulah aku melihatnya lagi.
Aku melihat kejadian ketika Furqan menyatakan perasaannya padaku. Dan betapa
bodohnya aku, aku malah menolak Furqan. Padahal aku memiliki perasaan yang sama
dengannya. Hhhh!!
Kuharap aku masih punya kesempatan
lagi. Setidaknya untuk melihat Furqan. Menyadari keinginan ku itu. Aku membuka
mata dan mengambil undangan reuni itu. REUNI. Mungkin Furqan akan dating di
sana.
Harus kuakui. Aku dan Furqan semacam
kehilangan kontak sama sekali. Terakhir bertemu dengannya saat aku pamitan akan
kembali ke Aceh mengikuti Nenekku. Hanya sampai disitu. Terlebih lagi ponselku
yang berisi nomer ponsel Furqan pun raib dicuri.
Tanpa tunggu lagi, aku langsung
mengambil tasku dan menuju ke ruang kepsek. Aku ingin minta cuti. Dan siapa
sangka kepsek memberikan cuti seminggu. Ku rasa seminggu itu cukup. Aku
mengucapkan terima kasih.
Sampai dirumah, aku langsung
mengambil baju dan memasukkannya ke dalam tas tangan yang cukup besar. Aku
berencan untuk tinggal disana beberapa hari, setidaknya aku juga bisa melihat
keadaan rumah peninggalan mendiang ayah dan ibu.
Setelah beberapa hari perjalanan,
akhirnya aku sampai di Bandung. Aku menuju ke rumah orang tuaku dulu, dan
berharap ada kamar kosong yang bisa kugunakan untuk tinggal beberapa hari ini.
Pasalnya, rumah ini sudah dijadikan rumah kos-kosan. Ya. Mudah-mudahan
saja.
Akhirnya hari yang kutunggu-tunggu
pun tiba. Aku diantar oleh Rasma, yang menyewa kos-kosan di rumahku mengantar
ku ke SMA ku tempat reuni itu. Hatiku deg-degan membayangkan bagaimana Furqan
sekarang ini. Aku berdoa dalam hati agar Furqan bisa hadir dalam Reuni ini.
Insya Allah.
Aku memasuki aula tempat reuni itu.
Sampai acara dimulai aku terus saja mencari Furqan. Aku mendesah mendapati
kenyataan bahwa tidak ada Furqan di sini bahkan setelah acara reuni ini
selesai. Dan jadilah reuni yang kutunggu-tunggu menjadi hal yang tidak begitu
penting lagi.
Sekarang penyesalan membumbung
tinggi dalam hatiku. Semestinya aku tidak menolak Furqan, semestinya aku tidak
pergi ke Aceh, dan semestinya ponselku tidak hilang. Aku berusaha menyalahkan
semuanya. Bahkan aku sampai menyalahkan orang tua ku yang meninggal di saat
yang tidak tepat.
Aku khilaf. Astagfirullah, aku
mengucapkan kalimat itu berulang kali hingga aku menitikkan air mata. Aku
terduduk di taman dimana aku dan Furqan dulu pertama kali bicara. Pelan-pelan
air mataku terus jatuh hingga akhirnya mengalir dengan deras.
“Tidak ada yang salah“. Aku
mengucapkan kalimat itu sambil menyeka air mata yang terus mengalir di pipiku .
“Tidak ada yang salah kecuali aku. Aku benar-benar menyesal“
“Uswah? Apa itu benar kau? “
Aku berbalik mendapati suara yang
tidak asing lagi di telinga aku. Senyumku merekah walau dengan air mata yang
masih mengalir begitu mengetahui orang itu adalah Furqan. “Furqan? “
“Ya ini aku. Furqan. Aku sudah
mencari-carimu kemana-mana.“ Aku masih terdiam dan terus memandangi wajah
Furqan. “Apa yang kau lakukan di sini. Ayo, kuantar kau pulang.“
Aku menurut saja ketika Furqan
memberikan ku isyarat agar mengikutinya. Aku masih sibuk memandangi punggung
Furqan yang masih berjalan ketika tiba-tiba ia berhenti. Spontan aku pun
berhenti.
“Aku sudah menunggu terlalu lama. 10
tahun Uswah.“ Furqan menunjukkan 10 jarinya “aku takkan basa basi lagi. Dengan
seluruh kesadaranku, restu Allah, dan restu Orang tua ku“ Furqan berhenti
bicara dan menarik napas dalam “Bismillahirrahmanirrahim mau kah kau menjadi
pendampingku sampai Tuhan mencabut nyawa kita masing-masing?“
Aku tidak pernah membayangkan ini.
Aku dilamar Furqan? Ini sama sekali tidak ada dalam banyanganku. Hening.
Sampai-sampai aku bisa mendengar dentingan detik jam tangan Furqan sama seperti
dulu. 10 tahun lalu.
Ketika Furqan menyatakan perasaannya
padaku dan aku menolaknya. Dan malah membuatku menyesal. Aku tidak akan
melakukan kesalahan yang sama. “Bismillahirrahmanirrahim ya, aku bersedia. Agar
kau bisa lebih mengAjari Aku Mencintai-Nya“



0 komentar:
Posting Komentar